Dokumentasi Kejawen & Tasawuf Jawa
Arsip spiritualitas Nusantara: Wahyu Panca Gaib dan Syahadat Sejati, lengkap dengan penjabaran makna filosofis.
Wahyu Panca Gaib (Ajaran Kapribaden)
Diwejangkan oleh Romo Herucokro Semono (13 November 1955), kelima peranti gaib ini merupakan tahapan laku penyucian jiwa (menurunkan Ego/Aku) untuk menyelaraskan kehendak diri dengan Gusti Ingkang Moho Suci.
1 Kunci (Pembersih Wadah & Dosa)
"Gusti Ingkang Moho Suci, kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti Ingkang Moho Suci. Sirullah, Dzatullah, Sifatullah. Kulo sejatine satriyo / wanito. Nyuwun wicaksono, nyuwun panguwoso, kangge tumindhake satrio sejati. Kulo nyuwun kangge nyirnakake tumindak ingkang luput."
Bedah Arti per Kalimat
- "Gusti Ingkang Moho Suci, kulo nyuwun pangapuro..."
Pengutaraan kerendahan hati hamba yang memohon ampunan mutlak (Fase Taubat mutlak). - "Sirullah, Dzatullah, Sifatullah."
Menyadari kerahasiaan, Zat, dan Sifat Tuhan sesungguhnya dititipkan dan bersemayam memancarkan Nur Ilahi dalam diri hamba. - "Kulo sejatine satriyo/wanito."
'Aku adalah kesatria'. Bukan dalam arti memegang pedang, di sini bermakna pejuang batin (Jihad Akbar melawan nafsu diri). - "Nyuwun wicaksono, nyuwun panguwoso..."
Memohon hikmah (wicaksono) dan kuasa-kendali diri (panguwoso) agar terwujud tindak laku kesatria suci. - "Kulo nyuwun kangge nyirnakake tumindak ingkang luput."
Supaya kendali dan kuasa itu difungsikan murni untuk memusnahkan segala perilaku buruk & ego hamba (pembersihan total).
2 Asmo (Identitas Rohani Sejati)
atau
Konto Rupo
atau
Kanthi Rupi
Makna Laku
Asmo (Nama) di sini bukanlah nama akta lahir, melainkan nama kedudukan Sukma (Roh). Secara kultural diberikan ('diwejang') oleh sesepuh melalui jalan ganjil/pengundian.
Secara harfiah memiliki makna Kawan / Menyertai (Konto / Kanthi) dan Esensi Wujud (Warno / Rupo), menyimbolkan roh murni yang mendampingi tubuh lahir manusia di dunia.
3 Mijil (Serah Terima Kehendak)
"(Sebut Asmo), jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, raganiro arso..." [Isi niyat murni. Misal: "...arso makarya" (bekerja), "...arso mlampah" (berjalan)].
Inisiasi Khusus/Pertama (Tarian Suci):
"...raganiro arso mbekso beksaniro pribadi."
Bedah Arti per Kalimat
- "Jeneng siro mijilo..."
"Bangkitlah wahai diri/roh." Memantik kesadaran jiwa. Diucapkan batin (dirapal) tiap mau memulai kegiatan harian. - "Panjenengan Ingsun kagungan karso..."
"...karena Aku Sejati/Tuhan memegang kendali atas Kehendak (Karso)." - "Raganiro arso..."
"...raga ini sekadar menjalankan kehendak [sebut kegiatan]." Menegaskan bahwa raga digerakkan bimbingan Tuhan, bukan syahwat fisik semata.
4 Singkir (Perisai Penyingkir Energi Negatif/Ego)
"Gusti Ingkang Moho Suci, kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti Ingkang Moho Suci. Sirollah, Datollah, Sipatollah. Kulo sejatine satriyo / wanito. Hananiro-hananingsun, Wujudiro-wujudingsun. Siro sirno mati dening satriyo sejati. Ketiban iduku putih sirno layu dening (Sebut Asmo)."
Bedah Arti Pamungkas Singkir
- "Hananiro-hananingsun, Wujudiro-wujudingsun."
"Keberadaanmu adalah keberadaanku, wujudmu adalah wujudku." Menyadari seluruh esensi yang kasat/gaib pun berasal dari Satu Pemelihara, meredam emosi kemarahan menjadi welas asih. - "Siro sirno mati dening satriyo sejati."
Engkau (entitas / niat buruk gaib / ego angkara) langsung sirna di depan Sang Petarung Jiwa yang murni. - "Ketiban iduku putih sirno layu..."
"Tertimpa ludah mutihku, melayu hancurlah engkau." Idu Putih (Ludah Mutih) melambangkan Sabda Pandita Ratu (Kehendak absolut / Kun Fayakun). Segala bentuk parasit dimensi gaib dan angkara ego niscaya gugur tersapu pendar nama Sukma (Asmo).
5 Paweling (Sandi Pengingat Jalur Keseimbangan)
"Siji-siji, loro-loro, telu-telonono;
Siji sekti, loro dadi, telu pandito;
Siji Wahyu, loro grahito, telu rejeki."
Bedah Arti per Kalimat
- "Siji-siji, loro-loro, telu-telonono."
Satu per satu, berdua ditekuni, perkuat kali ketiganya. Menekankan ketekunan menjalankan laku tanpa jeda. - "Siji sekti, loro dadi, telu pandito."
(1) Kukuh spiritualnya, (2) terwujud dunia materinya, (3) matang dan suci pelayanannya bagai Pendeta. Harmonisasi bumi & langit. - "Siji Wahyu, loro grahito, telu rejeki."
Utamakan mencari Wahyu Ilahi, bersihkan insting spiritual (Grahito) untuk merasakan kehendaknya—bila dua itu dipupuk, (3) Rezeki materi jasmaniyah alamiah akan menaungi dengan sendirinya.
Syahadat Panetep (Syahadat Sejati Batin)
Suluk warisan Wali Songo (Siti Jenar) guna meraih puncak persatuan jiwa Hamba dan Khalik (Manunggaling Kawula Gusti / Fana'). Bukan untuk membongkar Syariat agama, namun penggenap Makrifah batin.
"Syahadat panetep panatagama.
Kang jumeneng Roh Idhofi, kang ana telenging ati, kang dadi pancering urip iku.
...Gusti, sun ingsun, ya ingsun kang dumadi."
- "Syahadat panetep panatagama..."
Kesucian saksi batin, pengukuh dasar/landasan utama dalam tatanan (panata) agama ciptaan-Nya. - "...Kang jumeneng Roh Idhofi,"
Ruh Idhafi adalah Nafas Murni dari sang Ilahi yang bertahta (Jumeneng). Menyadari hakikat kehidupan raga ditopang Roh murni, bukan milik keakuan gumpalan daging. - "...kang ana telenging ati, kang dadi pancering urip iku,"
Berdiam di pusat relung hati yang paling sunyi. Dan Roh itulah satu-satunya tiang (Pancer) pemancar nyawa kehidupan raga biologis sang manusia. - "...Gusti, sun ingsun, ya ingsun kang dumadi."
Meleburnya batas Ego. "Ya Tuhan, karena Niat (Sun)-ku adalah Niat-Mu (Ingsun), maka kehendak-Mu jualah yang sesungguhnya mewujud." Lebur tanpa jarak, menjadikan Hamba sekadar Wayang, dan Tuhanlah Sang Dalang Agungnya.